‘’Pemaknaan Esensi dalam berlembaga serta penerapan metode metaforming menuju organisasi yang progresif’’
Hakikatnya
setiap manusia selalu ingin hidup berkelompok. Karena tentunya setiap individu
tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri Sehingga setiap orang hidup
bersosialisasi dikarenakan sikap saling membutuhkan antara individu yang satu
dengan individu yang lainnya. Sebagai seorang mahasiswa tentu tingkat
sosialisasi yang dilakukan lebih intens, dikarenakan di dunia kampus interaksi
dengan orang lain sangat dibutuhkan baik itu dalam hal akademik maupun pengembangan
dan penerapan ilmunya. Salah satu contohnya yaitu dengan berorganisasi. Seperti
yang kita ketahui bahwa dunia kampus merupakan tempat dimana wadah untuk
berlembaga bisakita temukan dengan mudah. Tergantung dari individunya mau
memeilih wadah yang seperti apa.
Organisasi adalah suatu kelompok
orang yang berada dalam suatu wadah yang sama untuk mencapai tujuan bersama. Idealnya,
Organisasi sangat penting bagi kebaikan mahasiswa sendiri, namun tak bisa
dipungkiri nahwa dewasa ini kesadaran mahasiswa dalam berorganisasi sangat
kecil, tak sedikit dari mereka yang tidak berminat untuk mengikuti organisasi
yang ada di kampusnya. kalupun banyak yang mengikuti organisasi di dalam
kampus, beberapa dari mereka hanya mengejar eksistensi ataupun popularitas
dikalangannya Akan tetapi tidak menutup kemungkinan beberapa orang dari mereka
memang tertarik untuk berorganisasi. Hal tersebut menjadi problematika yang
kompleks, yang dihadapi oleh mahasiswa yang bergabung dalam sebuah lembaga
kampus saat ini, akan tetapi .irisnya beberapa dari mereka menganngap bahwa
eksistensi dalam berorganisasi bukanlah suatu hal yang harus dijadikan problem dalam
lembaga itu sendiri, melainkan eksistensi tersebut menjadi tujuan utama dalam
organisasi. Hanya untuk tetap eksis dilihat orang, menjadi pusat perhatian
dengan mengikuti arus budaya yang ada, sebegitunya mengejarn eksistensi, sampai
lupa ‘’esensi’’ dari berorganisasi sebenarnya apa.hal diatas sesuai dengan
realitas yang sebenarnya terjadi saat ini, semua dilakukan semata-mata untuk
pemenuhan hasrat. Hal-hal yang seperti itulah terkadang menjadi penyakit dalam
suatu kelembagaan, sehingga munculnya penurunan antusias ketika menjalankan
sebuah program kerja entah dikarenakan kurang aktif, sibuk dengan lembaga yang
lain, atau tidak menutup kemungkinan individu masuk dalam sebuah organisasi
hanya untuk menyandang nama tanpa memerdulikan program maupun tugas-tugas
kepengursan yang sebenarnya.
Sekarang pertanyaan terbesarnya
ialah seperti apakah Eksistensi dan Esensi itu? Dalam KBBI eksistensi berarti
berada,keberadaan. Sedangkan Esensi adalah hakikat,inti,hal yang pokok.
Analoginya, Minuman kaleng bermerk ‘Soda’. Eksistensi dianalogikan sebagai
kaleng dan merknya sedangkan Esensi bisa dianalogikan sebagai minuman isi dari kaleng tersebut. Apabila individu
lebih memilih eksistensi sebagai tujuan utamanya, maka yang tercipta ialah
hanya kaleng kosong yang mewah bertuliskan ‘Soda’. Sedangkan individu yang
tujuan utamanya adalah esensi, maka yang tercipta adalah minuman yang sederhana
dengan kualitas tinggi. Sekarang kembalikan kepada diri masing-masing, kita mau
jadi kaleng kosong yang bermerk atau minuman yang berkualitas?. Sebagai
mahasiswa dalam bingkai organisasi, tentu kita tau mana yang harus di
prioritaskan. Eksistensi yang tujuannya menejar popularitas atau esensi yang
mengemban visi misi dari awal guna berproses untuk mencapai tujuan ?. Di dalam
suatu lembaga idealitasnya para anggota dan ketua harus menyatukan visi misi
karena organisasi bukan hanya sekedar perebutan tempat penguasa melainkan wadah
untuk belajar berbagai hal.
Di
dalam sebuah organisasi semua individu yang ada didalam tentunya meinginkan
organisasi yang progresif. Organisasi yang progresif artinya organisasi yang
mengarah pada perkembangan yang jauh lebih baik dari sebelumnya baik dari segi
anggotanya maupun program kerja yang ada didalamnya. Selain itu di setiap
program yang dicanangkan hendaknya berbeda dengan program yang sudah ada
sebelumnya walaupun pada dasarnya sama, supaya adanya perkembangan yang
terlihat signifikan. Selain itu perlunya kesadaran tentang semangat berlembaga,
tentunya kesadaran ini dimulai dari individu yang bersangkutan dengan
mempertimbangkan esensi dari berorganisasi sehingga kesadaran muncul dengan
sendirinya. Selain progresif, dan kesadaran berlembaga ada satu hal yang
penting yaitu sikap solutif. Mengapa hal ini dianggap penting? Karena didalam
suatu lembaga tentu saja tidak luput dari permasalahan, dari sinilah dibutuhkan
orang-orang yang solutif. Dan menurut saya pribadi di dalam suatu lembaga di
perlukan orang-orang yang memiliki metaforming. Metaforming berarti
mengumpulkan beberapa ide menjadi suatu ide yang baru atau dalam kata lain
suatu pemikiran yang mendalam tentang kreatifitas. Hal ini menurut saya sangat
diperlukan terutama dalam lembaga yang ada di kampus, terkhusus HIMPUNAN
MAHASISWA SOSIOLOGI FIS UNM. Karena seperti yang kita ketahui kita sebagai
mahasiswa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan menjadi tombak acuan orang
lain. Dengan membuat program kerja yang kreatif dan inovatif serta bermanfaat
bagi pengurus, masyarakat yang ada di dalam, dan orang-orang yang ada diluar.
Dengan begitu organisasi yang progresif bisa dengan mudah terealisasikan dengan
baik. Tentu saja metode ini bisa terealisasikan apabila di dalam oranganisasi
sudah tumbuh rasa mecintai proses dalam berlembaga dan semangat berlembaga.
Tanamkan dalam setiap diri individu bahwa Berlembaga bukan sebuah pilihan
melainkan suatu kebutuhan, apabila suatu kebutuhan tidak terpenuhi maka ada
ketimpangan dan hasrat yang tidak terpenuhi didalam diri manusia. Orang yang
cerdas tidak hanya dari segi kognitif nya (Akademik) saja akan tetapi orang
cerdas ialah orang yang mampu merealisasikan ilmunya.
Komentar
Posting Komentar